Kamis, 18 Oktober 2012

Museum Nasional - Jakarta


Museum Nasional terletak di Jalan Merdeka Barat 12 Jakarta menempati bangunan tua peninggalan masa kolonial Belanda. Cikal bakal berdirinya museum diawali ketika tanggal 24 April 1778 dibentuk sebuah perkumpulan ilmiah bernama Bataviaasch Genootschap van  Kunsten en Wetenschappen. Waktu itu perkumpulan (J.C.M. Radermacher) menyumbangkan gedung di Jalan Kalibesar beserta koleksi buku dan benda-benda lainnya yang kemudian menjadi dasar pendirian museum.
Pada masa pendudukan Inggris dalam rangka meningkatkan kinerja lembaga tersebut dibuat gedung baru di Jalan Majapahit 3. Sekarangmenjadi bagian dari komplek Sekretaris Negara. Selanjutnya pada tahun 1862, ketika koleksi sudah memenuhi  ruang gedung di Jalan Majapahit, pemerintah Belanda mendirikan gedung baru yang kinimenjadi menjadi Museum   Nasional. Gedung ini mulai dibuka untuk umum tahun 1868. 
Setelah mengalami pasang surut dalam pengelolaan, pada tanggal 17 September 1962 Lembaga Kebudayaan Indonesia (LKI) menyerahkan kepada pemerintah Republik Indonesia. Museum Nasional juga dikenal sebagai Museum Gajah, karena dihadiahkannya patung gajah berbahan perunggu oleh Raja Chulalongkorn dari Thailang pada tahun 1871 yang kemudian dipasang di halaman depan museum. Meskipun demikian sejak 28 Mei 1979, nama resmi lembaga ini adalah Museum Nasional Republik Indonesia.

sumber: leaflet museum nasional

Museum Gunung Merapi - Yogyakarta


Museum Seni Budaya Jawa Ullen Sentalu - Yogyakarta


Senin, 15 Oktober 2012

Museum Pers Perjuangan - Surabaya


Ratu Boko - Yogyakarta


The Blanco Renaissance Museum - Ubud, Bali



The Blanco Renaissance Museum (sign system) by Mario Blanco Don Antonio Blanco

Pura Agung Kentel Gumi Kayangan Jagad - Klungkung, Bali


Tanah Lot - Bali


Kertagosa - Klungkung, Bali


The Lost Vegetation (work in proggres)



Title: The Lost Vegetation

Artist : Joko Dwi Avianto
Size : 280x80x120cm
Material : Bambu Tali (Bambu Apus) 
Year : 2012 / Art Jog 12 / Taman Budaya Yogyakarta

Merupakan sebuah simbolisasi vegetasi "hutan" yang berpindah wujud bahkan hilang. Kumpulan rumpun-rumpun yang menaungi aktivitas manusia laiknya aktivitas sosial manusia (gathering, berjualan, bercukur dsb) dibawah pohon beringin. Ketika naungan ini hilang maka aktivitas pun berpindah, bahkan tradisi ikut hilang. Bambu yang dihadirkan dalam istalasi pada Art Jog 12 ini merupakan bentuk perpindahan wujud dari tingkat vegetasi alamiah menjadi sekedar material menjadi sekedar material yang dibentuk menjadi rumpun-rumpun (naugan) baru. 




Hope on Hold (work in proggres)

















Hope on Hold, merupakan salah satu karya dari pematung I Made Widya Diputra. Karya berukuran 600x800x500 cm berbahan Leathers, coconuts dan alumunium ini adalah salah satu commision work pada gelaran Art Jog 12. Karya tersebut merupakan kritik terhadap kondisi negara Indonesia saat ini. Negara yang kaya dengan sumber pangan tetapi belum semua rakyatnya merasakan kesejahteraan, ibarat kata pepatah "Kelaparan di Lumbung Pangan". Secara visual, ikon gajah melambangkan kekuatan dan kelapa melambangkan sumber daya alam.

Art Jog 12, dikuratori oleh Bambang 'Toko' Witjaksono yang mengambil tema "Looking East" a Gaze upon Indonesian Contemporary Art. Tema tersebut diusung sebagai upaya dalam rangka untuk (kembali) mencari dunia (yang disebut) Timur. Meski awalnya bangsa atau orang lain yang sadar akan potensi dari seni di Timur (Indonesia merupakan salah satunya) lamban laun orang-orang lokal juga menjadi "sibuk" dan bersemangat dengan pencarian tentang mereka sendiri. 

Bangsa lain (baca: Barat) merasa bahwa eksotisme dunia Timur sangat merangsang imajinasi mereka, terutama para seniman seniman asing yang mendapat banyak pengalaman estetis ketika bersinggungan dan mengunjungi dunia Timur. Dunia yang lebih ramah, bergelora dan hangat dibadingkan dunia Barat yang dingin dan kaku. Pencarian-pencarian tersebut kian hari kian marak, mungkin saja dikarenakan berkaitan dengan mentalitas ketimuran yang kadang masih merasa tertindas oleh hegemoni asing. Atau jangan-jangan karena pencarian tersebut "hanya" semata-mata strategi agar bisa "diterima" dalam pusaran arus seni rupa global? 

Apapun alasan dan semua yang ada dibalik semua itu, ART Jog 12 patut untuk diapresiasi dan diharapkan mampu menjadi sebuah gelaran yang berdampak positif bagi masyarakat umum dan seniman.

sumber: katalog pameran